Bupati Manggarai
Sabtu, 18 April 2009 | | |Seperti biasa saya suka intip2 di web2 yang bernuansa NTT dan kemarin saya ketemu foto ini di Pos Kupang.
Foto di atas nampaknya biasa2 saja, tapi buat orang2 yang merasakan citarasa dan gaya sandiwara politik di NTT, maka foto tersebut menurut saya memiliki makna yang penting dan patut di abadikan jikalau perlu di abadikan selamanya dalam arsip politik.
Di Manggarai ada kebiasaan 'weku wa'i rentu sa'i' secara literal di artikan sejumlah orang yang duduk bersama dengan kaki di lipat seperti yoga. Namun dalam kehidupan keseharian pada era baru di Manggarai istilah 'weku wa'i rentu sa'i' tersebut adalah indentik dengan musyawarah. Dalam posisi kaki berlipat orang Manggarai mampu duduk berjam2 untuk menanti kata sepakat yang bijak. Sayangnya secuil tradisi tersebut di kubur oleh praktek politik masa lalu. Praktek politik masa lalu yang saya maksudkan adalah seperti terukir indah dalam lirik sebuah lagu dari seniman ternama Iwan Falls yang menyatakan bahwa penguasa jaman itu tau-nya hanya "sombong melangkah di istana yang megah" .
Saya tidak kenal dan tidak pernah bertemu, baik langsung maupun tidak langsung pak Bupati dan wakil bupati Manggarai, sehingga dalam foto yang saya edit dari pos kupang tsb di atas saya hanya tunjukan dengan panah tanpa menjelaskan mana pak Bupati dan mana wakil-nya.
Tidak pernah ada bupati sebelumnya yang berani (mau) 'weku wa'i bersama rakyatnya apalagi harus di potret wartawan dalam posisi duduk pada tikar (bukan kursi/tahta). Saya sering melihat adegan dan sandiwara politik di media sebelumnya tapi apa yang di lakukan oleh pak bupati dan wakil pada foto di atas, adalah terlihat murni dari kesadaran dan kedewasaan berpolitik, di mana rakyat adalah bukan sekedar obyek politik tapi rakyat adalah subyek pembangunan.
Pak Kristian dan pak Kamelus? (maaf kalau namanya salah) pada foto tsb melihat dirinya sejajar dengan rakyat, kalau ada ahli body language(bahasa badan/tingkah) dengan melihat foto tsb di atas maka kedua pemimpin ini adalah yang paling tulus dari semua bupati yang pernah ada di Manggarai.. buktinya?? mereka yang pertama kali di abadikan oleh media sambil duduk di lantai beralaskan tikar bersama rakyatnya.
Pemimpin2 seperti beliu berdua harus di dukung... betul mereka mungkin tidak sempurna(memang ada yang sempurna?)... dari semua yang di anggap baik, pilihlah bupati yang terbaik. Oleh karena itu maka sampai ada bukti lain tertulis atau bukti dalam bentuk foto yang menunjukan kelebihan individu2 lain yang ingin jadi bupati Manggarai, maka pilihan terbaik untuk masa jabatan berikutnya adalah masih pak Kristian dan pak Kamelus.
Jangan pilih bupati dengan alasan SARA(suku agama ras) karena itu adalah tolol. Gunaka panca indra jangan pakai dengkul.
hey hey hey jangan tuduh aku kompanye yah.... Saya sudah bilang saya tidak kenal siapa dan darimana pak Kristian dan Kamelus berasal dan suku apa, karena saya tidak peduli, yang saya tahu mereka adalah bupati dan wakil bupati daerah saya.
Tentunya sebagai rakyat Manggarai saya ucapkan terima kasih atas kepedulian pak bupati atas duka yang menimpa keluarga yang ada maupun yang tidak ada dalam foto. kehadiran bupati secara fisik di rumah mereka, secara psikologis akan sangat berguna untuk mengurangi kepedihan mereka.
Foto di atas nampaknya biasa2 saja, tapi buat orang2 yang merasakan citarasa dan gaya sandiwara politik di NTT, maka foto tersebut menurut saya memiliki makna yang penting dan patut di abadikan jikalau perlu di abadikan selamanya dalam arsip politik.
Di Manggarai ada kebiasaan 'weku wa'i rentu sa'i' secara literal di artikan sejumlah orang yang duduk bersama dengan kaki di lipat seperti yoga. Namun dalam kehidupan keseharian pada era baru di Manggarai istilah 'weku wa'i rentu sa'i' tersebut adalah indentik dengan musyawarah. Dalam posisi kaki berlipat orang Manggarai mampu duduk berjam2 untuk menanti kata sepakat yang bijak. Sayangnya secuil tradisi tersebut di kubur oleh praktek politik masa lalu. Praktek politik masa lalu yang saya maksudkan adalah seperti terukir indah dalam lirik sebuah lagu dari seniman ternama Iwan Falls yang menyatakan bahwa penguasa jaman itu tau-nya hanya "sombong melangkah di istana yang megah" .
Saya tidak kenal dan tidak pernah bertemu, baik langsung maupun tidak langsung pak Bupati dan wakil bupati Manggarai, sehingga dalam foto yang saya edit dari pos kupang tsb di atas saya hanya tunjukan dengan panah tanpa menjelaskan mana pak Bupati dan mana wakil-nya.
Tidak pernah ada bupati sebelumnya yang berani (mau) 'weku wa'i bersama rakyatnya apalagi harus di potret wartawan dalam posisi duduk pada tikar (bukan kursi/tahta). Saya sering melihat adegan dan sandiwara politik di media sebelumnya tapi apa yang di lakukan oleh pak bupati dan wakil pada foto di atas, adalah terlihat murni dari kesadaran dan kedewasaan berpolitik, di mana rakyat adalah bukan sekedar obyek politik tapi rakyat adalah subyek pembangunan.
Pak Kristian dan pak Kamelus? (maaf kalau namanya salah) pada foto tsb melihat dirinya sejajar dengan rakyat, kalau ada ahli body language(bahasa badan/tingkah) dengan melihat foto tsb di atas maka kedua pemimpin ini adalah yang paling tulus dari semua bupati yang pernah ada di Manggarai.. buktinya?? mereka yang pertama kali di abadikan oleh media sambil duduk di lantai beralaskan tikar bersama rakyatnya.
Pemimpin2 seperti beliu berdua harus di dukung... betul mereka mungkin tidak sempurna(memang ada yang sempurna?)... dari semua yang di anggap baik, pilihlah bupati yang terbaik. Oleh karena itu maka sampai ada bukti lain tertulis atau bukti dalam bentuk foto yang menunjukan kelebihan individu2 lain yang ingin jadi bupati Manggarai, maka pilihan terbaik untuk masa jabatan berikutnya adalah masih pak Kristian dan pak Kamelus.
Jangan pilih bupati dengan alasan SARA(suku agama ras) karena itu adalah tolol. Gunaka panca indra jangan pakai dengkul.
hey hey hey jangan tuduh aku kompanye yah.... Saya sudah bilang saya tidak kenal siapa dan darimana pak Kristian dan Kamelus berasal dan suku apa, karena saya tidak peduli, yang saya tahu mereka adalah bupati dan wakil bupati daerah saya.
Tentunya sebagai rakyat Manggarai saya ucapkan terima kasih atas kepedulian pak bupati atas duka yang menimpa keluarga yang ada maupun yang tidak ada dalam foto. kehadiran bupati secara fisik di rumah mereka, secara psikologis akan sangat berguna untuk mengurangi kepedihan mereka.

