Sebuah Cinta
Minggu, 19 April 2009 | | |Ku duduk sambil menatap bulan dan bintang. Kulihat senyummu di wajah rembulan . Aku si pungguk tak tahu diri. Aku yang mengejarmu penuh harap. Dua Bulan dihinggapi cemas dan takut. Dua Bulan kupupuk benih cinta dihati
Benih cinta mulai tersemai dihatimu. Kurasai hari itu makin dekat. Hari kita bersatu. tersimpul dihati.Oh Er embunku. Kau yang membuta sekaligus membuka hati. Terima kasih tak seperti kuberikan. Terima kasih Tuhan.
Aku hijapi tubuh dengan doa. Sekedar untuk melihatmu tersenyum dan tertawa. Setelah sekian lama akhirnya tunai sudah.Kata demi kata. Hari demi hari. Purnama demi purnama. Memandangmu serasa cinta yang menyirami sahara hatiku yang penuh luka. Penuh amarah dan dosa. Detik-detik penuh makna kurasai dekatmu.
Sekedar untuk melihat pelangi senja. Ternyata itu hanya fatamorgana. Membias dan akhirnya hilang. Tanpa bekas bahkan. Fatamorgana yang menuntunku pada jurang kenistaan.
Aku ingin bangkit dan kembali. Badai gurun menderu dan terus berarak serasa tanpa henti. Aku hanya pasrah dan duduk.
Berbukit-bukit ku lewati menuju cinta yang abadi.
Dia tetap anggun. Dia tetap cinta yang hanya memberi. Tak minta kembali barang setetespun. cinta yang agung.
Luka itu terus menganga. Menghabiskan setetes demi setetes darah kotorku. Tubuhku mengejang hebat. Kurasai ajalku makin dekat. Tapi darah kotor itu mulai mengering. Dalam kehausan di tengah sahara. Oase itu datang memberi. Air kehidupan yang mengaliri kerongkongan hidupku. Pelan namun pasti. Hatiku berderit pelan menangis. Tak seharusnya kutinggalkan oase itu. Dengan dendam bahkan.
Darah kotor mulai hilang dibadanku. Aku mulai belajar jalan. Setapak demi setapak. Semoga ada cinta lagi yang bisa kusinggahi. Atau mungkin aku akan bersanding disana.
Terima kasih sekali aku sampaikan untukmu. Sudah terlalu banyak bahagia aku berikan. kau selalu membalasnya dengan ketaknyamanan, derita dan sering kali tangis. Maafkan aku ya. Aku hanya berharap senyum terus bersinar. Tak kenal siang dan malam. Kau seorang wanita yang paling aku sayang (er).
Benih cinta mulai tersemai dihatimu. Kurasai hari itu makin dekat. Hari kita bersatu. tersimpul dihati.Oh Er embunku. Kau yang membuta sekaligus membuka hati. Terima kasih tak seperti kuberikan. Terima kasih Tuhan.
Aku hijapi tubuh dengan doa. Sekedar untuk melihatmu tersenyum dan tertawa. Setelah sekian lama akhirnya tunai sudah.Kata demi kata. Hari demi hari. Purnama demi purnama. Memandangmu serasa cinta yang menyirami sahara hatiku yang penuh luka. Penuh amarah dan dosa. Detik-detik penuh makna kurasai dekatmu.
Sekedar untuk melihat pelangi senja. Ternyata itu hanya fatamorgana. Membias dan akhirnya hilang. Tanpa bekas bahkan. Fatamorgana yang menuntunku pada jurang kenistaan.
Aku ingin bangkit dan kembali. Badai gurun menderu dan terus berarak serasa tanpa henti. Aku hanya pasrah dan duduk.
Berbukit-bukit ku lewati menuju cinta yang abadi.
Dia tetap anggun. Dia tetap cinta yang hanya memberi. Tak minta kembali barang setetespun. cinta yang agung.
Luka itu terus menganga. Menghabiskan setetes demi setetes darah kotorku. Tubuhku mengejang hebat. Kurasai ajalku makin dekat. Tapi darah kotor itu mulai mengering. Dalam kehausan di tengah sahara. Oase itu datang memberi. Air kehidupan yang mengaliri kerongkongan hidupku. Pelan namun pasti. Hatiku berderit pelan menangis. Tak seharusnya kutinggalkan oase itu. Dengan dendam bahkan.
Darah kotor mulai hilang dibadanku. Aku mulai belajar jalan. Setapak demi setapak. Semoga ada cinta lagi yang bisa kusinggahi. Atau mungkin aku akan bersanding disana.
Terima kasih sekali aku sampaikan untukmu. Sudah terlalu banyak bahagia aku berikan. kau selalu membalasnya dengan ketaknyamanan, derita dan sering kali tangis. Maafkan aku ya. Aku hanya berharap senyum terus bersinar. Tak kenal siang dan malam. Kau seorang wanita yang paling aku sayang (er).
